Kegiatan pelatihan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga digelar di lima desa lokasi Program Kampung Iklim (Proklim) di Provinsi Bengkulu pada periode 20 Agustus hingga 10 September 2025. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menerapkan praktik ramah lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan desa terhadap dampak perubahan iklim.
Kegiatan berlangsung selama dua hari di masing-masing desa dengan pola yang seragam. Hari pertama difokuskan pada pengelolaan sampah organik, di mana peserta diperkenalkan pada berbagai jenis limbah dapur seperti sisa makanan, sayur, kulit buah, dan ampas kopi. Masyarakat dilatih menggunakan ember komposter sebagai teknologi sederhana untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos padat. Proses pengomposan dilakukan menggunakan buah-buahan sebagai starter atau larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengurai alami.
Peserta juga dikenalkan pada pembuatan eco-enzyme dari kulit buah yang bermanfaat sebagai pembersih alami dan ramuan herbal. Melalui praktik ini, warga belajar bahwa limbah organik rumah tangga dapat diolah menjadi produk bernilai guna dan ramah lingkungan.
Hari kedua difokuskan pada pengelolaan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam. Masyarakat diajarkan memilah, membersihkan, dan mendaur ulang sampah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Peserta mempraktikkan pembuatan tas belanja, keranjang, vas bunga, pouch, dan tempat tisu dari bahan bekas kemasan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, setiap desa menerima satu unit mesin jahit guna menunjang produksi kerajinan daur ulang.
Selain pelatihan teknis, kegiatan juga menitikberatkan pada penguatan kelembagaan masyarakat. Di setiap desa dibentuk kelompok pengelola bank sampah yang dikukuhkan melalui SK Kepala Desa. Kelompok ini bertugas mengorganisasi pengumpulan sampah, mengelola sarana pendukung, serta mengembangkan kegiatan daur ulang secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari implementasi aksi Proklim, penyelenggara juga menyalurkan 200 unit ember komposter dan 5 unit mesin jahit kepada lima desa peserta. Setiap desa menerima 40 unit ember komposter tumpuk yang dibagikan kepada 20 keluarga peserta pelatihan dan 20 keluarga lainnya melalui skema training of trainer (ToT). Dengan mekanisme ini, peserta pelatihan diharapkan menjadi agen perubahan yang menularkan keterampilan kepada warga lain di lingkungannya.
Peserta pelatihan di setiap desa juga dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan dusun, untuk memastikan pemerataan pengetahuan dan replikasi praktik di tingkat lokal. Masing-masing kelompok ditargetkan menghasilkan minimal satu produk kerajinan dari sampah anorganik sebagai bukti bahwa sampah dapat bernilai ekonomi bila dikelola dengan baik.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat rumah tangga. Dukungan berupa sarana, pembentukan kelembagaan, serta pelibatan aktif masyarakat memastikan kegiatan tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi berlanjut menjadi gerakan kolektif pengelolaan sampah berkelanjutan.
Dengan semangat kemandirian dan keberlanjutan, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan gerakan perubahan lingkungan dari rumah tangga yang berkontribusi langsung pada pengurangan timbunan sampah sekaligus peningkatan ketahanan desa terhadap perubahan iklim.
